by
Ratno Partawi
Khutbah Pertama
إِنَّ ْحَمْداً للهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ
وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ
أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ
هَادِيَ لَهُ، أَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ
اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ
وَرَسُوْلُهُ. قال
الله تعالى : “يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ اتَّقُواْ اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ
إِلاَّ وَأَنتُم مُّسْلِمُونَ”. ، “يَا
أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُواْ رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُم مِّن نَّفْسٍ وَاحِدَةٍ
وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِسَاء
وَاتَّقُواْ اللهَ الَّذِي تَسَاءلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ
عَلَيْكُمْ رَقِيباً”.
“يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا
اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً . يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَن يُطِعْ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً”.أَمَّا بَعْدُ، ........
Jama’ah jum’at rahimakumullah.
Hari ini sampai kita kepada
hari yang dimuliakan oleh Allah SWT yang disebut sebagai “Sayyidul Ayyam (induk
dari segala hari)”, Allah SWT masih memberikan kita umur panjang sampai saat
ini. Bukan hanya umur yang panjang, Allah juga telah memberikan nikmat sehat
serta nikmat istiqamah di dalam hati kita. Sehingga dengan nikmat-nikmat
tersebut, ringan kita melangkahkan kaki menyambut seruan adzan, datang memenuhi
panggilan Allah, menunaikan shalat fardhu jum’at pada hari yang penuh dengan
kemuliaan ini.
Untuk itu kita bersyukur kepada Allah. Bersyukur dengan ucapan,
dengan memperbanyak mengucap hamdalah (Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin).
Bersyukur dengan perbuatan, dengan senantiasa istiqamah melaksanakan segala
perintah Allah, dan menjauhi segala larangan Allah SWT. Untuk itulah, Mari kita senantiasa meningkatkan keimanan
dan ketakwaan kita kepada Allah, haqqo tuqotihi yaitu dengan
sebenar-benar takwa, berusaha menjalankan semua perintah dan sedapat mungkin
meninggalkan larangan-Nya. Dan janganlah kita sekali-kali meninggalkan dunia
ini kecuali dalam keadaan Islam dan khusnul khotimah.
Jama’ah Jum’at yang semoga
dimuliakan Allah…
Kita renungkan, pelajaran apa yang kita peroleh dari kesempatan
hidup yang Allah berikan pada kita, sehingga kita dapat menghirup udara segar
awal Muharram 1440 Hijriah ini. Yang kita ketahui adalah bahwa perjalanan waktu
terus berputar. Dan itulah yang kita sebut dengan Roda Kehidupan.
Itulah barangkali salah satu
ungkapan yang pas untuk menggambarkan perjalanan kita di dunia yang fana ini.
Roda yang berputar, mengandung makna bahwa, kadang berada di atas dan kadang
pula berada di bawah. Ada kehidupan dan ada kematian. Ada kondisi sehat dan ada
kondisi sakit. Ada rasa senang dan adapula rasa susah. Ada kondisi kaya dan ada
kondisi miskin. Ada saatnya kita mendapatkan sebuah jabatan, namun di saat yang
berbeda diambil pula jabatan tersebut. Itu semua adalah merupakan bagian dari
ujian kehidupan di dunia ini, Allah ta’ala berfirman,
“وَنَبْلُوَّكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ
فِتْنَةً”
Artinya: “Kami
(Allah) akan menguji kalian dengan keburukan dan kebaikan sebagai
cobaan”. QS. Al-Anbiya’ (21): 35.
Sangat beruntung mereka yang
sukses dan berhasil melewati berbagai macam ujian yang beragam tersebut dapat
lulus dan melewatinya dengan baik.......
Tidak mudah untuk sukses
dalam melewati berbagai macam ujian yang amat beragam itu. Ada kalanya sukses
saat diuji dengan kekayaan, namun ternyata gagal ketika diuji dengan
kemiskinan. Ada pula yang sebaliknya; dapat sukses dan lolos saat diuji dengan
kemiskinan, tetapi gagal ketika diuji dengan kekayaan.
Ada kalanya sukses saat diuji
dengan kesehatan, namun gagal diuji dengan sakit. Sebaliknya, ada yang sukses
saat diuji dengan sakit, akan tetapi gagal ketika diuji dengan kesehatan.
Ada yang sukses dan lolos saat
mendapatkan ujian naik jabatan, namun gagal ketika diuji turun jabatan. Adapula
yang sebaliknya, sukses saat mendapat ujian dengan diturunkan dari jabatan,
gagal diuji kenaikan jabatan.
Kaum muslimin dan muslimat
yang kami hormati…
Bagaimanakah cara, agar kita
bisa sukses dan lancar dalam menghadapi berbagai ujian yang beragam tadi?
Faktor pertama dan utama yang
diperlukan seorang hamba, adalah taufik dan bantuan dari Allah ta’ala.
Taufik dari Allah adalah
karunia yang diberikan-Nya kepada siapapun yang Dia kehendaki. Tidak peduli
apakah ia pejabat atau rakyat jelata, pria atau wanita, tua atau muda. Semua
berpeluang untuk mendapatkan karunia istimewa yang berupa taufik tersebut.
Namun, kita semua dituntut
untuk berusaha dan berikhtiar dalam mengejar karunia mulia itu. Salah satu
bentuknya adalah dengan mengamalkan nasehat Nabi Muhammad SAW, yang pertama
:
“تَعَرَّفْ إِلَى اللهِ فِي الرَّخَاءِ يَعْرِفْكَ فِي
الشِّدَّةِ”
“Kenalilah Allah saat lapang;
niscaya Dia akan mengenalimu ketika engkau susah”. HR. Al-Hakim dari Ibn Abbas radhiyallahu
‘anhuma dan dinyatakan sahih oleh al-Albaniy.
Dalam kitab Jâmi’
al-‘Ulûm wa al-Hikam, Imam Ibn Rajab rahimahullah menjelaskan
makna hadits di atas. Maksud dari mengenali Allah saat lapang adalah:
bertakwa kepada-Nya serta menjalankan aturan-Nya. Barang siapa yang menjalankan,
yaitu (bertakwa kepada-Nya serta menjalankan aturan-Nya), maka ia telah
mengenal Allah. Sehingga ia memiliki hubungan spesial dengan Allah SWT. Maka, ketika
ia mengalami kondisi susah, niscaya saat itu Allah akan mengenalinya.
Kedekatannya dengan Allah saat lapang, sangat bermanfaat dalam kondisi susah
seperti itu. Ia akan disayang Allah dan dikabulkan permintaannya.
Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah…
Yang dimaksudkan kondisi
lapang, adalah ketika seseorang dalam keadaan sehat, ketika seseorang diberi kekayaan,
ketika seseorang menduduki jabatan dan yang lainnya yang semisal dengan itu.
Sedangkan kondisi susah atau
sempit, adalah ketika seseorang sakit, jatuh miskin, atau ketika turun dari
jabatan dan yang lainnya yang semisalnya.
Maka, saat kondisi fisik
kita masih sehat, mari kita gunakan kesempatan berharga itu untuk lebih
semangat dalam beribadah, menghambakan diri kita kepada Allah ta’ala. Menjalankan
perintah-perintah-Nya dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Mari kita tunaikan
shalat berjamaah di masjid, di mushalla, di tempat-tempat ibadah semisal, dan
juga dengan ringan tangan kita berusaha membantu orang lain yang membutuhkan
bantuan dan uluran tangan kita.
Bila hal demikian dapat kita lakukan, insya
Allah kita akan dibantu oleh Allah SWT agar dapat kuat dalam
menghadapi ujian-ujian-Nya. Ujian akan terasa ringan dalam menjalani
penderitaan itu. Kita dibantu oleh-Nya sehingga bisa bersabar dalam menanggung
ketidaknyamanan yang diujikan pada kita. Dan mungkin juga akan segera
dikaruniai kesembuhan dan bebas dari ujian oleh Allah ta’ala. Itulah
antara lain buah dan pengaruh dari kepatuhan kita di hari sebelumnya kepada
Allah SWT, saat kondisi tubuh kita diberi-Nya kesehatan dan kelonggaran.
Demikian juga di saat
kondisi rizki sedang lancar, sedang melebihi kebutuhan kita, mari kita tunaikanlah
zakat harta kita, kita infaqkan harta kita, kita tidak lupa dengan saudara-saudara
kita, mereka yang membutuhkan uluran tangan dan bantuan kita, kita bantu
kegiatan-kegitan yang mengajak kepada bertambahnya keimanan kepada-Nya, dan
segala hal yang semisal dengan itu.
Maka bila hal itu dapat kita jalankan, insyaAllah ketika
rizki sedang seret, ketika jatah rizki yang diberikan Allah berkurang, bahkan
tidak mencukupi kebutuhan pokok kita, keimanan kita akan tetap dikokohkan
karena telah dijaga oleh Allah ‘azza wa jalla. Sehingga rizki yang
sedikitpun akan tetap mencukupi kebutuhan kita, karena diberkahi oleh Allah SWT.
Dan insya Allah badai ujian yang kita terimapun akan segera berakhir. Itulah
antara lain buah dan pengaruh dari ketaatan kita dahulu kepada Allah saat kita
dianugerahi rizki yang lancar .
Tidak jauh berbeda, manakala
kita masih menduduki suatu jabatan. Kita pergunakan kesempatan berharga
itu untuk mematuhi dan menjalankan aturan-aturan Allah, bukan justru
melanggarnya. Mengemban amanah dengan benar dan jauh dari menabrak aturan
agama. Berusaha meningkatkan kesejahteraan orang banyak, bukan justru mementingkan
kepentingan diri sendiri dan orang yang ada di sekitar kita. Melaksanakan
amanah sesuai dengan aturan yang diberikan dengan benar tanpa menyelewengkan
kepercayaan itu, berbuat dan berusaha dengan seadil-adilnya, karena berbuat
adil lebih dekat kepada takwa.
Apabila seluruh kebaikan itu
ditunaikan dengan benar, insyaAllah saat turun dari jabatan
yang diemban, kita akan tetap disegani dan dihormati oleh masyarakat dan
bawahan. Akan ikhlas dalam menjalani ketetapan Allah SWT. Serta yang paling
istimewa dari itu adalah meraih keridhaan dari Allah Yang Maha Rahman dan Rahim.
Itulah buah dari kepatuhan kita kepada Allah, pada saat kita mengemban amanah
dan menerima jabatan, kemudian dijalankan dengan benar, diemban sesuai dengan
haq-nya dan memenuhi kewajiban yang harus dilaksanakan.
Jamaah Jum’ah Rahimakumullah
Allah subhanahu
wa ta’ala mengingatkan kita bahwa hakikat kekuasaan dan kemuliaan itu
adalah milik Allah ‘azza wa jalla. Dia yang memberi jabatan kepada
siapa yang dikehendaki-Nya, dan Dia pula yang mencabut jabatan dari siapa pun
yang dikehendaki-Nya.
“قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ
تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ
مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيرٌ”
Artinya: “Katakanlah
(Muhammad), “Ya Allah pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapa
pun yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kekuasaan dari siapa pun yang
Engkau kehendaki. Engkau muliakan siapa pun yang Engkau kehendaki dan Engkau
hinakan siapa pun yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkau lah segala kebaikan.
Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu”. QS. Ali Imran (3): 26.
Jamaah Jum’ah
Rahimakumullah...
Sebagai akhir dari khutbah
ini..., jangan sampai karunia Allah SWT berupa apapun yang diamanahkan kepada
kita, justru malah mempersulit perjalanan kita di dunia ini, apalagi malah akan mencelakakan diri kita di akhirat
yang kekal abadi, na’udzubillahi min dzalik...!
Dengan ini semoga Allah SWT
membimbing di setiap langkah dan perjalanan kita dengan hidayah-Nya, sehingga
kita semua dapat menapaki perjalanan hidup ini dengan ringan dan dalam
maghfirah-Nya, Aamiin....!
باَرَكَ اللهُ ِلى وَلَكُمْ بِاْلقُرْآنِ
اْلعَظِيْمِ وَ نَفَاعَنّيِ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ
اْلأَ يَاتِ وَالذِّكْرِ اْلحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ
تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هَوَالسَّمِيْعُ اْلعَلِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ
وَكَفٰى وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلىٰ النَّبِيِّ اْلمُصْطَفٰى وَعَلىٰ اٰلِهِ
وَصَحْبِهِ اَهْلِ الصِّدْقِ وَاْلوَفىٰ. أَشْهَدُاَنْ لاَاِلٰهَ اِلاَّالله
ُوَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ, وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ فَصَلِّ وَسَلِّمْ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىٰ اٰلِهِ وَصَحْبِهِ
اَجْمَعِيْنَ. وَسَلَّمَ تَسْلِيْمًاكَثِيْرًا. (أَمَّا بَعْدُ) فَيَا
عِبَادَاللهِ. إِتَّقُوْاالله َحَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ اِلاَّوَاَنْتُمْ
مُسْلِمُوْنَ. وَاعْلَمُوْا اَنَّ اللهَ تَعَالىٰ صَلىَّ
عَلىٰ نَبِيِّهِ قَدِيْمًا. فَقَالَ تَعَالىٰ اِنَّ
الله َوَمَلاَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلىٰ النَّبِى يَااَيُّهَاالَّذِيْنَ
اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَللّٰهُمَّ صَلِّ
عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىٰ اٰلِ
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلىٰ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعلىٰ اٰلِ
سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلىٰ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلىٰ اٰلِ
سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلىٰ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلىٰ
اٰلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فىِ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ
لِلْمُسْلِمِيْنَ وَاْلمُسْلِمَاتِ وَاْلمُؤْمِنِيْنَ وَاْلمُؤْمِنَاتِ
َاْلأَحْيَاءِمِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ
الدَّعَوَاتِ يَاقَاضِيَ اْلحْاَجَاتِ. رَبَّنَااغْفِرْلَنَا
وَلِإِخْوَانِنَاالَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِاْلإِيْمَانِ وَلاَتَجْعَلْ فىِ
قُلُوْبِنَا غِلاًّ لِلَّذِيْنَ أَمَنُوْا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا
وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ اْلوَهَّابْ رَبَّنَا اٰتِنَا فىِ الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفىِ
اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَصَلَّى اللهُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ
وَصَحْبِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانِ إِلَى يَوْمِ الدِّيْن وَآخِرُ دَعْوَانَا
أَنِ الحمد لله رب العالمين.
عِبَادَاللهِ, إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَاْلإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ
ذِلْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ اْلفَخْشَاءِ وَاْلمُنْكَرِ وَاْلبَغْيِ يَعِظُكُمْ
لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ وَلَذِكْرُاللهِ اَكْبَرُ. اَقِمِ الصَّلاَةِ.
